03. Mahkotadewa : Panglima Penakluk Kanker
Terbitan : Maret 2004 [Penerbit : Agro Media] sudah dicetak lebih dari 4 kali
Cuplikan isi buku :
PRAKATA
Siapapun yang terserang penyakit kanker pasti mengalami guncangan yang hebat. Namun, kita jangan merenung dan menangis berkepanjangan. Jika Tuhan mengizinkan, kanker itu bisa ditaklukkan. Dan, jika Tuhan berkenan campur tangan, kanker itu bisa dibuang.
Sebuah cita-cita besar agar obat-obatan tradisional Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan dikenal di mancanegara bukanlah omongan semata. Hari demi hari saya temukan berbagai pengalaman baru yang menarik untuk dijadikan cermin bagi siapa saja yang mengalaminya. Perlu disadari juga bahwa saat ini dunia pengobatan tradisional dengan tanaman obat di negeri ini dianggap sebagai dongeng yang berasal dari negeri Cina. Padahal, dalam kenyataan hidup sehari-hari, berbagai kisah dari mereka yang sembuh dengan tanaman obat Indonesia bukanlah Omong kosong belaka. Kesembuhan seseorang dengan tanaman obat menjadi hal yang tak terbantahkan.
Saya akan tetap konsisten menyebarkan informasi kepada masyarakat luas mengenai kiprah yang sedang saya geluti. Berbekal pengalaman sendiri dan rekan-rekan konsultan yang tergabung dI Klinik Mahkota Dewa dan para Mitra Usaha yang tersebar di segenap penjuru tanah air bahkan manca negara, saya mencoba membagi dan menuangkannya dalam sebuah buku yang berjudul MAHKOTA DEWA PANGLIMA PENAKLUK KANKER. (judul SUDAH FINAL final)
Buku ini merupakan hasil dedikasi dari segenap Tim Mahkota Dewa. Di dalamnya diungkapkan data-data lengkap tentang berbagai kasus penyakit kanker, baik yang berhasil diatasi maupun yang tidak. Ada beberapa kasus penyakit kanker yang pada awalnya tidak yakin bisa saya atasi dengan mahkota dewa dan pasukannya. Namun, kenyataannya sungguh menakjubkan, pengobatan yang selama ini saya berikan ternyata bisa menjadi jalan kesembuhan. Meskipun sebagian ada yang belum tuntas seratus persen, NAMUN setidaknya bisa meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Kenyataan inilah yang membuat saya terpanggil untuk terus mencatat dan menulis perkembangan semua pasien yang datang ke Klinik Tradisional Mahkota Dewa yang sebagian besar mengeluhkan penyakit kanker yang dideritanya. Dari data yang saya kumpulkan, harapan sembuhnya ternyata sangat mencengangkan. Jika secara medis sudah tak memberi harapan, tidak ada salahnya mencoba alternatif pengobatan lain lewat tanaman obat. Setidaknya kita sudah berbuat susuatu yang mungkin masih ada harapan sembuh atau setidaknya penderitannya akan berkurang dan biaya yang dikeluarkan tidak membebani keluarganya. Meskipun demikian, manusia hanya berusaha dan Tuhan yang menentukan segalanya. Selain banyak yang tertolong, ada juga beberapa pasien kami yang akhirnya benar-benar tak bisa tertolong dan Tuhan berkehendak lain . Kami selalu berdoa dan mengirimkan ungkapan berduka cita jika mendengar kabar duka tersebut.
Dari dua buku saya sebelumnya yang berjudul Mahkota Dewa: Obat Pusaka Para Dewa dan Menaklukkan Penyakit Bersama Mahkota Dewa, banyak pasien yang merasa terbantu mendapatkan informasi yang tepat untuk mengatasi penyakitnya. Meskipun demikian, masih ada pembaca yang meragukan kebenaran tulisan saya, karena dinilainya tidak masuk akal. Di dalam buku ini tidak semua pasien bersedia dituliskan identitas dan alamatnya dengan jelas. Sebaliknya, sebagian pasien lainnya justru mengungkapan rasa syukur atas kesembuhannya dengan berbagi pengalaman lewat buku ini. Untuk memperoleh pengakuan secara ilmiah, saya terus berusaha mengumpulkan data pasien yang suatu saat nanti bisa dijadikan bahan uji klinis untuk membuktikan khasiat tanaman mahkota dewa dan pasukannya.
Saya mohon maaf sedalam-dalamnya kepada para pasien yang tidak bisa bertemu dengan saya secara langsung karena keterbatasan waktu yang saya miliki. Namun, saya selalu informasikan kepada semua pasien, bahwa untuk berobat tidak harus bertemu saya. Semua tim konsultan selalu mengadakan pertemuan rutin untuk keseragaman pelayanan. Kami juga selalu mendiskusikan cara mengatasi aneka permasalahan dan keluhan pasien. Untuk bisa melayani ribuan pasien, saya dibantu oleh saudara kandung saya Ibu Wiwik, Ibu Agatha, Ibu Tuty, dan adik-adik saya, Ibu Waty, Ibu Wita, dan Ibu Alexia. Selain itu, saya dibantu sahabat-sahabat yang sejak muda selalu bersama, yakni Ibu Ana Binatun, Ibu Eko Sapto, Ibu Sufrida Yulianti, Ibu Lilik, Ibu Titin Biduang, dan Ibu Waty. Bahkan, agar bisa memberikan layanan yang lebih baik, kini saya merekrut dr. Haririh Wiji Utami, seorang dokter senior sahabat saya. Keluarga besar saya memang hampir semuanya mengikuti jejak ayah sebagai BATRA {pengobat tradisional}. Sahabat-sahabat saya juga selalu seiring sejalan bersama saya mengikuti kursus tanaman obat di Karyasari. Dan mengikuti berbagai seminar kesehatan dan juga terdaftar di Sudin Yankes Jakarta Utara sebagai BATRA.
Saya sangat berterima kasih kepada suami {Ir.Harmanto} dan anak-anak saya, Bimo, Rani, dan Wibi yang terus memberi dukungan dan pengertian. Terima kasih juga untuk kakak-kakak dan adik-adik saya yang selalu membantu dan memberikan berbagai masukan, juga untuk sahabat-sahabat saya yang dengan penuh pengabdian melayani para pasien. Terima kasih kepada segenap staf saya, Ir. Rinaldi, Ir. Irlansyah, Mas Henky Purnama SE MM, Pak Endi, Mas Yesi, Mas Narko, Mas Pipin, Mbak Susi, dan Mbak Anik. Khusus untuk Ir. Edi Junaedi, terima kasih selalu sampaikankepada dr.Haririh Wiji Utami yang kini menjadi tim konsultan medis di Klinik Mahkota Dewa dan dokter-dokter dari berbagai rumah sakit yang memberi kepercayaan untuk merujuk pasiennya ke klinik saya Terima kasih pula kepada para MITRA USAHA IR.Aji Mulyono yang saya tunjuk menjadi distributor Jawa Timur dan dengan gigih menyelenggarakan acara talk show di berbagai kota di Jawa Timur.Juga tentu saja terima kasih kepada semua Mitra Usaha yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu.
Terima kasih kepada para pasien yang berkenan mengizinkan saya untuk menulis kisah kesembuhannya. Kepada Mas Hikmat Kurnia dari AgroMedia Pustaka, terima kasih telah memberi semangat dan memotivasi saya untuk terus menulis dan menulis. Terima kasih juga kepada Majalah Trubus, Matra, Gatra, Intisari, Tabloid NOVA, Harian Kompas, Suara Pembaruan, Republika, dan berbagai media elektronik, SCTV, TransTV, dan ANTV.
Akhirnya, saya mohon maaf kepada para pembaca apabila dalam penulisan buku ini terdapat banyak kekurangan. Saya terus berharap adanya berbagai masukan atau kritik dari semua pihak untuk memperbaiki tulisan ini. Semoga Tuhan berkenan membimbing dan menuntun saya untuk terus bisa berkarya bagi sesama dan memberi manfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya.
Jakarta, 19 Februari 2004
Ning Harmanto
Penulis
Sebuah Prolog
Pengalaman saya akhir-akhir ini banyak didatangi pasien dari berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan Belanda. Mereka tertarik terhadap ramuan tradisional Indonesia untuk menyembuhkan penyakitnya setelah memperoleh informasi dari website kami www.mahkotadewa.com, bahkan sebagian dari mereka telah merasakan khasiat dan manfaatnya.
Saat ini saya merasa prihatin dengan banyaknya pengobatan alternatif yang hanya ingin mencari untung pada saat orang lain sedang membutuhkan. Saya juga melihat mulai adanya pematenan potensi keanekaragaman hayati bangsa kita oleh negara lain. Namun, saya bersyukur ternyata ungkapan rasa keprihatianan yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan, dimuat oleh Harian Kompas, tanggal 10 Desember 2003 dengan judul “Obat Tradisional Indonesia Tembus Pasar Dunia?”.
Di balik judul tersebut tersirat sikap optimis dari dalam diri saya, bahwa produk obat tradisional Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan obat tradisional dari negara lain. Masalahnya, tinggal bagaimana cara menjalin kerja sama untuk mengenalkannya kepada masyarakat luas baik di dalam maupun di luar negeri Bagi pembaca yang belum sempat membacanya, dapat menyimaknya dalam buku ini.
Obat Tradisional Indonesia Tembus Pasar Dunia?
Akhir-akhir ini pengobatan alternatif mempergunakan ramuan tradisional tidak hanya diminati oleh masyarakat pedesaan, tetapi juga kalangan menengah ke atas perkotaan. Pengobatan tradisional menjadi semacam tren di tengah masyarakat yang selama ini lebih banyak mengandalkan sistem pengobatan modern, kalangan medis, dan ilmu kedokteran dari Barat. Seiring dengan tren “back to nature” yang kini merebak di dunia, khususnya dunia pengobatan, mampukah obat tradisional menembus pasar ekspor dunia?
Masyarakat kini seolah menyadari, bahwa ternyata obat tradisional yang sebenarnya sudah lama dikenal dan dipraktikkan sejak beribu tahun lalu itu tidak kalah hebat dari obat modern. Kalau dulu, kesembuhan dari suatu penyakit hanya bergantung dari pengobatan dokter, dan seolah-olah kata-kata dokter seperti sebuah “aturan yang tak terbantahkan serta mutlak harus dituruti”, maka kenyataan itu mulai bergeser.
Kini di mana-mana mulai banyak bermunculan klinik-klinik pengobatan tradisional. Bahkan tempat praktik-praktik paranormal pun mulai banyak dikunjungi para “pasien” yang ingin beroleh kesembuhan dengan cara yang terkadang tidak masuk akal. Kenyataan ini tidak hanya terlihat di kota-kota kecil, akan tetapi juga di kota besar seperti Jakarta. Pengetahuan tentang pengobatan tradisional dari nenek moyang, kini mulai banyak digali. Meskipun demikian, ada pula sebagian orang yang lebih bijak dan realistis, dengan tetap melakukan diagnosis serta terus mengikuti perkembangan penyakitnya melalui dokter modern, tetapi sehari-hari proses pengobatan yang dilakukannya menggunakan obat-obat tradisional.
Di Indonesia, penggunaan obat alami yang selama ini lebih dikenal sebagai jamu, sebenarnya telah meluas dipraktikkan oleh nenek moyang kita. Masyarakat kini terus melestarikannya sebagai salah satu warisan budaya kita. Dan memang sebenarnya, bangsa kita yang terdiri dari berbagai suku bangsa ini memiliki keaneka-ragaman obat tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami Indonesia sendiri, termasuk di antaranya tanaman-tanaman obat.
Potensi yang amat besar dari negeri kita ini membuat banyak pihak ingin meneliti dan memanfaatkan bahan-bahan alami dan tanaman obat ini untuk berbagai kegunaan lain, seperti kosmetik, pengharum, penyegar, pewarna, ataupun senyawa model yang lain lagi yang bisa disimak dalam perkembangan berbagai produk semacam itu akhir-akhir ini. Upaya ini, selain melestarikan warisan budaya nenek moyang kita, juga akan menggali berbagai faedah yang ada di dalam kekayaan alami kita sendiri, yang selama ini kita tidak manfaatkan sebaik-baiknya.
Industri Jamu di Indonesia
Pada dasarnya, jamu terbagi atas tiga jenis, yaitu jamu tradisional warisan nenek moyang, jamu yang dikembangkan berdasarkan referensi, dan fitofarmaka. Khusus untuk fitofarmaka, konsepnya tidak berbeda dengan obat modern karena merupakan obat yang berasal dari tanaman yang telah melalui proses uji klinis, serta pra-uji klinis persyaratan formal produk pengobatan.
Selama ini industri jamu bertahan tanpa dukungan memadai dari pemerintah maupun industri farmasi. Dokter dan apotek belum dapat menerima jamu sebagai obat yang dapat mereka rekomendasikan kepada pasien, sehingga produk jamu tidak termasuk dalam produk yang dipasarkan tenaga-tenaga detailer seperti halnya produk-produk obat modern. Di pihak dokter yang mempraktikkan pengobatan, pendidikannya juga masih mengacu kepada pengobatan modern, dan tidak menyentuh substansi pengobatan dengan bahan-bahan alam (fitofarmaka).
Dengan kondisi di atas, tak heran apabila pasar industri jamu tradisional sulit berkembang pesat. Padahal dengan jumlah masyarakat Indonesia yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa, sesungguhnya potensi pasar bagi produk-produk jamu sangatlah besar. Terlebih lagi, saat ini kalangan masyarakat menengah ke atas mulai terlanda tren “back to nature”, menggunakan produk-produk yang berasal dari alam.
Sebagai cerminan, dapat kita bandingkan dengan data yang dimuat oleh mingguan berita Tempo (4—10 Agustus 2003) tentang situasi pasar obat kimia di Indonesia. Mereka sebutkan bahwa pasar obat kimia di Indonesia mengalami kenaikan 20 persen, sayangnya 90 persen bahan bakunya masih berupa bahan impor dari Cina dan India. Meski sudah memiliki 2.250 disteributor, 5.670 apotek, dan 5.500 toko obat, toh konsumsi obat farmasi masih sangat rendah, yakni Rp60 per kapita per tahun. Hal lain yang menghambat berkembangnya pasar obat kimia adalah aturan dan birokrasi yang berbelit-belit serta pajak berganda atas bahan baku, sehingga mengakibatkan melambungnya harga obat.
Dari data di atas, tampak bahwa perkembangan obat farmasi begitu banyak hambatannya. Apalagi untuk dikembangkan oleh industri kecil. Seharusnya, kenyataan ini dijadikan kajian, untuk lebih meningkatkan serta mengoptimalkan potensi kekayaan alam Indonesia sebagai produk obat alami khas Indonesia.
Perkembangan obat tradisional, saat ini justru menggembirakan. Saat ini, mulai banyak penelitian obat-obat tradisional yang dilakukan secara serius. Contoh, penelitian tentang obat penurun kadar kolesterol dan penurun gula darah oleh sebuah perusahaan obat besar di Indonesia dan penelitian obat-obat tradisional yang mempunyai khasiat anti-kanker. Namun demikian, biaya untuk membuat obat tradisional menjadi fitofarmaka sungguh sangat tinggi. Untuk biaya uji klinis, per-item-nya bisa mencapai 300 juta rupiah, bahkan 400 juta rupiah sehingga produsen lebih memilih memproduksi jamu racikan atau ekstrak ketimbang fitofarmaka.
Namun, jika dibandingkan dengan obat alami asal Cina atau negara-negara lain, mengapa obat alami Indonesia tidak sepesat perkembangan obat-obat alami asal Cina tersebut? Harus diakui, memang masih ada beberapa titik lemah dalam upaya pengobatan mempergunakan obat alami Indonesia, sehingga perkembangannya tidak sepesat obat-obat tradisional Cina, India, Korea, dan Jepang. Selain faktor ketidak atau kekurangpercayaan masyarakat, pengobatan dengan bahan alami Indonesia tidak atau belum memiliki tradisi pendokumentasian. Hal ini berbeda dengan pengobatan Cina yang pendokumentasiannya lengkap dan penggunaan, khasiat, serta pentabibannya terakumulasi selama berabad-abad. Pemraktikannya pun melalui proses sosialisasi panjang, serta memiliki unit disiplin tersendiri untuk kemudian membentuk semacam “tradisi keilmuan” Timur dengan standar-standar yang khusus pula.
Selain itu, penyebab ketertinggalan pengobatan dengan bahan alami Indonesia adalah pengembangannya yang masih relatif baru, yaitu pada tahun 1985. Itupun dananya terbatas dan belum mendapatkan prioritas (Kompas, 2000).
Namun apapun kendalanya, saat ini banyak pihak mulai melirik potensi pasar obat tradisional ini, sehingga dari segi bisnis, prospek pemasarannya sangat menggiurkan. Memang idealnya, harus ada pembuktian terlebih dulu mengenai khasiat obat alami terhadap suatu penyakit sebelum obat tersebut dinyatakan dapat digunakan sebagai pengobatan suatu penyakit.
Peluang Pasar Dunia
Pengembangan obat alami ini memang patut mendapatkan perhatian yang lebih besar, bukan saja disebabkan potensi pengembangannya yang terbuka, tetapi juga karena adanya peningkatan permintaan pasar akan bahan baku obat-obat tradisional untuk kebutuhan domestik dan internasional. Hal ini tentunya akan berdampak positif bagi peningkatan pendapatan petani serta penyerapan tenaga kerja, baik dalam usaha tani maupun usaha pengolahannya.
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) yang dikeluarkan pada bulan Juli 2002, perkembangan pemanfaatan penggunaan obat-obat tradisional di bebeberapa negara dapat dilihat dalam daftar berikut ini.
— Perancis : 75 persen penduduknya menggunakan pengobatan alternatif, paling tidak satu kali.
— Jerman : 77 persen dari klinik terapi menggunakan akupuntur.
— Amerika : Pasar untuk pengobatan alternatif mencapai 60 dollar Amerika pertahun.
— Cina : 95 persen rumah sakit di Cina memiliki klinik tradisional.
— India : Obat tradisional digunakan sekitar 70 persen penduduknya.
— Indonesia : 40 persen penduduknya menggunakan obat tradisional, 70 persennya di pedesaan.
— Jepang : Pasar obat tradisional mencapai sekitar 2,5 juta dollar Amerika.
— Thailand : Memiliki sistem terpadu untuk pengobatan tradisional di 1.120 health centre.
Dari data di atas, tampak bahwa tingkat kepercayaan masyarakat dunia terhadap tanaman obat sebenarnya begitu besar. Tinggal bagaimana cara kita untuk membuat sebuah terobosan, agar potensi besar ini tidak diambil oleh negara lain. Di negeri kita pun akhir-akhir ini sebenarnya perhatian terhadap obat alami meningkat tajam. Penelitian mengenai potensi dan khasiat obat alami juga mengalami peningkatan. Hal ini tentunya merupakan sebuah perkembangan yang menggembirakan, mengingat potensi kekayaan alam Indonesia sangat berlimpah.
Bahan baku yang ada, diolah dan dikembangkan menjadi aneka produk jamu, mulai dari jamu yang digosokkan, ditempelkan, dikumur, sampai diminum. Bentuk ramuan ada yang bubuk, kapsul, instan, ada juga simplisia kering. Semuanya kini ada. Penggunaannya pun bervarisasi, dari encok, pegel linu, jerawat, pelangsing, penggemuk, sampai penghancur batu ginjal dan penghalau kanker dan diabetes. Maka, ada baiknya produk yang ada didukung oleh kebijakan pemerintah, serta berbagai pihak terkait guna mengembangkan pelayanan kesehatan, tidak semata-mata tergantung pada obat-obat kimiawi modern.
Sebagai catatan akhir, ingin saya kemukakan bahwa negara Indonesia dengan keanekaragaman kekayaan hayati melimpah, sebenarnya mempunyai peluang amat besar untuk lebih dikembangkan potensinya. Tidak hanya memiliki potensi pasar di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.
Untuk hal ini, diharapkan ada kerja sama yang terintegrasi antara pemerintah dan masyarakat, baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga, dengan demikian bahan baku obat alami akan diakui keabsahannya secara medis maupun klinis. Selain melestarikan warisan budaya nenek moyang kita sendiri, hal ini juga dapat untuk menghindari dicuri atau dikembangkannya warisan berharga oleh negara lain hingga akhirnya bangsa kitalah yang rugi.
Cita-cita besar agar produksi obat tradisional kita diterima dan mendapat kepercayaan masyarakat dunia, semoga bukan hanya sekadar mimpi. Seiring dengan itu, harapan lainnya adalah agar apabila cita-cita ini terwujud, maka devisa negara pun bisa ditingkatkan.
Ny. Ning Harmanto
Ibu Rumah Tangga, Membuka Klinik Pengobatan Alternatif di Jakarta Utara.
Sumber: Harian Kompas, Kolom Ilmu Pengetahuan, Rabu 10 Desember 2004



















